Nasional

Saat SBY Berkuasa, Korban Perbudakan Meningkat 300 Persen

JAKARTA - Ketua Board Migrant Care, Wahyu Susilo menilai, pemerintahan era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lamban dalam menangani kasus-kasus yang menimpa buruh migran Indonesia di berbagai negara.

"Selama 10 tahun pemerintahan SBY berkuasa, meninggalkan warisan perbudakan yang sungguh nyata. Hal ini bisa dilihat dalam Global Slavery Index 2014, di mana tahun ini posisi Indonesia makin mengarah ke peringkat yang paling buruk menjadi 102 dari 167 negara," ungkap Wahyu saat peringatan Hari Buruh Migran Sedunia di Jakarta, Kamis 18 Desember 2014.

Yang lebih memprihatinkan, kata Wahyu, selama SBY berkuasa dua periode, Indonesia masuk 10 besar atau di posisi delapan dengan jumlah korban perbudakan modern terbanyak di dunia.

"Negara - negara yang termasuk kategori paling banyak perbudakan modern, seperti India, China, Pakistan, Uzbekistan, Rusia, Nigeria, Kongo, Indonesia, Banglades dan Thailand. Indonesia ada di peringkat delapan," bebernya.

Dalam jangka waktu satu tahun, jumlah warga negara Indonesia yang menjadi korban perbudakan modern tercatat meningkat mencapai 300 persen. "Jika di 2013 berjumlah 210,970 orang, maka di 2014 meningkat menjadi 714.300 orang," jelasnya.

Berdasarkan catatan Migrant Care, sepanjang tahun 2014 kerentanan buruh migran Indonesia menghadapi perbudakan dan pelanggaran HAM secara sistematis belum bergeser secara signifikan. (rep05)