Nasional

Rupiah Juara dari 150 Mata Uang Lain

Rupiah bergerak menguat, dalam seminggu terakhir ini, karena data neraca perdagangan yang mengalami surplus. Meski demikian, pelarangan ekspor komoditas akan membuat neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit yang besar.
 
Mata Uang Garuda ini menguat 3,3 persen sejak 10 Februari, dan ditutup di Rp11.785 per USD kemarin, akibatnya RSI 14 hari turun menjadi 24, terendah sejak Mei 2011. Level di bawah 30 menunjukkan adanya tren penguatan. Nilai tukar Rupiah juga melewati Bollinger Band-nya karena naik ke level tertinggi tiga bulan minggu ini.
 
Hal ini membuat penguatan nilai tukar Rupiah selama seminggu terakhir menjadi yang paling besar di antara sekitar 150 mata uang yang di survei oleh Bloomberg. Investor luar negeri telah mengalirkan dana mereka sebesar USD1,2 miliar ke saham negara dan obligasi mata uang lokal tahun ini karena data ekonomi yang membaik .
 
Surplus perdagangan Desember merupakan yang terbesar dalam lebih dari dua tahun, dan membantu mengendalikan defisit current account yang mendorong eksodus dana dari aset Indonesia pada 2013, ketika turun 21 persen. Namun, Nomura Holdings Inc dan Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd mengatakan, pelarangan bijih untuk mendorong investasi di smelter dan kilang, akan membuat ekspor terganggu.
 
"Ada sedikit ruang untuk Rupiah untuk menguat dan mendapatkan tenaga karena begitu banyak sentimen positif. Kualitas perbaikan current account Indonesia tetap menjadi pendorong, tapi tentu saja kita masih memiliki risiko pemilu," kata kepala penelitian pasar global untuk Asia Tenggara di Bank of Tokyo-Mitsubishi, Leong Sook Mei, seperti dilansir dari Bloomberg, Selasa (18/2/2014).
 
Nilai tukar Rupiah naik 2,5 persen sejak 12 Februari, sehari sebelum bank sentral melaporkan bahwa defisit current account menyusut menjadi 1,98 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal IV menguat ke 3,8 persen pada tiga bulan sebelumnya. Rupiah menguat 1,4 persen menjadi Rp11.658 per USD, level terkuat sejak 21 November.
 
Analis Goldman Sachs Group Inc yang berbasis di Singapura, Mark Tan, memperkirakan nilai wajar bagi Rupiah ada di kisaran Rp11.800 per USD dalam sebuah catatan pada 12 Februari. (Rep01)