Fokus Rohil

Sopir Dipungli, Razia tak Buat Jera Truk Lebihi Tonase

PUJUD - Razia yang dilakukan Polres Rokan Hilir (Rohil) tak membuat jera truk-truk melebihi tonase berujung merusak jalan lintas Kecamatan Pujud, Rokan Hilir menghubungkan Tanjung Medan, Rokan Hilir. Akibatnya, negara dirugikan miliaran rupiah atas ulah truk yang pada umumnya mengangkut Crude Palm Oil (CPO). Ironisnya, para sopir mengaku kena pungutan liar (Pungli). 

Padahal, pekan lalu Polres mengelar razia. Tetapi, Minggu (3/11), jalan lintas Pujud ini masih saja dilintasi truk pengakut CPO yang terkesan membandel. “Meski sudah dilakukan razia, toh truk CPO melebihi tonase masih bandel. Padahal kami sedang mengerjakan pembangunan jalan di sini,” kata Sub Kontraktor Waskita Karya bagian penimbunan jalan, Ucok Endin, Rabu (6/11/2013). 
 
Dikatakannya, akibat jalan Lintas  yang di lalui truk dengan melebihi tonas ini, proyek pembangunan jalan lintas Pujud, sepanjang 20 kilometer hancur total. "Padahal, kita belum serah terima dengan Pemprov Riau, karena proyek ini melalui dana APBD Riau," tambahnya. 
 
Ironisnya lagi, bebasnya truk yang melintas dikarenakan para sopir malah sering terkena pengutan liar (Pungli) sebesar Rp225 ribu hingga Rp270 ribu tiap melintas oleh oknum pemuda setempat. "Menurut pengakuan sopir, mereka kena pungutan hingga Rp270 ribu sekali melintas setiap membawa CPO oleh pemuda setempat. Modus yang digunakan oknum adalah untuk perawatan jalan dan sudah berlangsung sekitar 5 bulan belakangan ini," sebut Endin. 
 
Malahan, sambungnya, pungli ini bisa mulus karena di backingi oknum Dishub Rohil dan aparat pihak kecamatan. "Rumornya seperti itu. Dan telah berkembang di masyarakat," sambungnya mendapat informasi warga. 
 
Ketika coba menelusurinya, ternyata informasi terjadinya pungli benar adanya. Hal ini ditegaskan Zulkanean, salah satu sopir pengangkut CPO rute Kabupaten Rokan Hulu-Pujud-Simpang Tugu- Dumai. " Benar itu. Kami melintas di sini juga bayar hingga Rp270 ribu, paling murah Rp225 ribu. Padahal rute saya hanya Pujud-Simpang Tugu- Dumai. Makanya lintas di sini, karena tidak banyak mengeluarkan dana sampai tujuan. Ya karena bayar, mau tidak mau untuk menutupinya harus melebihkan tonase," terang Zulkarnaen.
 
Jelasnya, jika para sopir memutar arah lintas Labuhan Batu, Sumut misalnya dari Kota Pinang-Cikapak dan Bagan Batu- Balam- Ujung Tanjung (Rohil) hingga ke Dumai, maka pengeluaran pasti lebih besar. "Malahan kalau dipikir, lebih besar, walapun biaya perjalan lebih sedikit tetapi jauhnya itu, belum lagi biaya makan akan bertambah. Untuk itulah kita pilih lintas Pujud karena menyingkat waktu," paparnya.
 
Dijelaskan Zulkanaen, ketika mereka melewati Simpang Tugu, Pujud, tepatnya di rumah makan Reza, mereka wajib membayar kepada pemuda setempat dengan harga yang telah dipatok. "Dari pada truk terhambat perjalannya, kami pilih beri uang saja ketimbang ngotot minta kwitansi dari para pemuda setempat. Karena mereka tak pernah memberikan kwitansi itu. Yang jelas bagi kami tidak ada masalah asal truk bisa melintas," jelasnya. 
 
Senada disampaiakn sopir yang sama, Sahrial Effendi, mengatakan, truk CPO yang dikemudikannya bermuatan 28 ton dan jelas melebihi tonase. "Sama, sewaktu melewati Pujud pasti dimintai uang. Setiap meminta kwitansi malah kami diajak ribut. Padahal uang jalan dari perusahaan hanya cukup buat minyak dan makan serta keperluan buat mengantisipasi kerusakan ban," sambungnya. 
 
Terpisah, Camat Pujud, Hasyim mengaku geram atas ulah para oknum sehingga membuat leluasa sopir truk melebihi tonase melintas. Padahal, akibatnya malah membuat negara dirugikan miliaran rupaih. "Padahal pembangunan jalan Pujud belum selesai, malah rusak parah. Saya juga geram dengan kejadian ini, sudah banyak laporan masyarakat kepada saya, anehnya saya juga dituduh menerima upeti," geramnya. 
 
Untuk itu, pihaknya akan terus menjalin koordinasi dengan Polres Rokan Hilir dan Dishub untuk penertiban. "Kalau dapat bukan sopirnya saja yang ditangkap. Tangkap juga para oknum pungli itu. Lakukan razia secara rutin untuk menindak sopir truk dan oknum pungli," harapnya.
 
Sementara itu, Tokoh Masyarakat Pujud, H Mustoyo yang coba dikorek keterangannya menjelaskan, setiap malamnya tak kurang dari 120 truk melintas. "Kalau dihitung per truk membayar Rp270, maka dikalikan 100 trus saja uangnya sudah berapa itu. Jadi, selama 5 bulan terakhir para oknum itu sudah mengantongi sekitar Rp4 miliar labih. Nah, persoalannya, kemana uang itu mengalir, dan kenapa kegiatan ini bisa berlangsung lama," tanyanya dengan nada heran.
 
Kapolres, AKBP Tonny Hermawan R Sik ketika menggelar razia pekan lalu mengatakan, pihaknya akan membersihkan dan menindak para sopir truk CPO melebihi tonase. "Bukan hanya sopir, tapi kalau kedapatn ada yang pungli ya kita tindak tegas juga. Karena itu sudah pelanggaran pidana," tegasnya.
 
Operasi yang digelar kala itu dimulai sejak pagi hingga pukul 22.00 WIB. "Jadi kita tidak main-main," tegas Tonny Hermawan, soal pungli yang diduga pelakuknya pemuda setempat. Razia ini akan terus dilakukan. Pada tahap awal kita menilang surat-surat kenderaan mereka, namun kalu  para sopir ini terus membandel, ya kita akan menahan pelaku dan truknya. 
 
Wakil Bupati Rohil, H Suyatno, mendukung sepenuhnya upaya Polres untuk melakukan penertiban tersebut. "Kita sudah melakukan koordinasi dengan Kapolres, dan kita akan menurunkan Dinas Perhubungan mendampingi polisi untuk melakukan penertiban," tegasnya. 
 
Diberitakan sebelumnya, Razia dilakukan jajaran Satuan Lantas Polres Rokan Hilir. Sedikitnya, petugas sudah menilang 60 truk. Dalam razia tersebut langsung di pimpin Kapolres Rokan Hilir, AKBP Tonny Hermawan R SIk. "Pokoknya kita janji terus melakukan razia  terhadap truk yang melebihi muatan, hingga jalan tersebut tidak dilalui truk," tegasnya. (rep1)