Sosialita

Dulu Guru Les Eksakta, Kini Nahkodai Perusahaan

Kehidupan ini sangat indah. Tak semua perjalanan hidup manusia berjalan dengan mulus. Tentu banyak rintangan dan hambatan dalam meraihnya. Kuncinya adalah kesabaran, keteguhan hati, memiliki prinsip yang kuat, jujur, apa adanya, dan selalu melakukan inovasi. Di balik kesuksesan seseorang, ada kisah-kisah mengharukan dan menyedihkan.
 
Semua itu adalah proses yang harus dilalui. Mulai hari ini, Kompas.com menurunkan serial artikel "Success Story" tentang perjalanan tokoh yang inspiratif. Semoga pembaca bisa memetik makna di balik kisahnya.
 
KompasOtomotif - Berada di puncak karir sebagai Managing Director PT Ford Motor Indonesia (FMI) tidak pernah dimimpikan Bagus Susanto sebelumnya. Tekadnya sangat keras untuk keluar dari kemelut lingkaran kemiskinan yang selama ini menghantui kehidupan orang tuanya. Bagus kecil hidup dalam kondisi serba kekurangan.
 
Semua pengalaman hidupnya seolah tertulis dalam catatan lengkap di belakang tangannya, begitu lengkap, komplet, dan runut. Tanpa, ada rasa malu, sungkan, atau risih, Bagus membeberkan semua kesulitan yang harus dihadapinya dalam hidup, sampai akhirnya sukses menjalani hidup.
 
"Saya termasuk beruntung bisa kuliah, karena orang tua pada waktu itu sudah tidak kuat lagi membiayai," kenang Bagus, dalam perbincangan santai bersama Kompas.com, di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan.
 
Insinyur Teknik Industri Universitas Teknologi Surabaya ini menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa penuh perjuangan. Keinginan Bagus untuk sekolah hingga bangku kuliah dilalui bukan lewat jalan yang lurus. Tapi, ia bersikeras hanya lewat pendidikan, jalan satu-satunya untuk bisa mewujudkan mimpi, keluar dari kemiskinan. 
 
Dua pilihan
 
Ketika SMA hingga lulus, Bagus kerap menggunakan waktu senggangnya untuk ikut berjualan kain bersama sang Ayah di Surabaya, Jawa Timur. Akibat biasa jualan di akhir pekan, Bagus menikmati uang lembur hasil berjualan kain dan dilihat punya bakat oleh bos sang ayah dan ditawarkan jadi pekerja tetap. 
 
Meski sudah terbuka kesempatan berjualan, hati kecil Bagus tetap mau menyandang pendidikan kuliah. Salah satu pilihan adalah mendaftar ke Pendidikan Teknik Industri Gajah Tunggal (PTIGT). Sekolah strata D3, yang sempat tenar di masanya, karena seluruh mahasiwanya terpilih, mendapat beasiswa, gaji, asrama, dan kontrak kerja.
 
Dengan bakat yang dimilikinya, Bagus diterima di PTIGT, lantas mengikuti serangkaian tes, sampai akhirnya meinggalkan satu ujian, wawancara. Jika, lancar Bagus harus pergi meninggalkan Surabaya ke Jakarta untuk mengikuti pendidikan itu.
 
Di sisi lain, Bagus juga ikut dalam tes Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), salah satunya memilih Institut Teknologi Surabaya, jurusan Teknik Industri. Melihat adanya dua pilihan di depannya, Bagus ditanya oleh sang Ayah apakah yakin bisa lolos UMPTN. 
 
Merasa yakin lolos, Bagus kemudian diminta kedua orang tuanya untuk tetap tinggal di Surabaya sambil membantu membimbing ketiga adik-adiknya yang masih sekolah. Sang ayah menjanjikan siap menopang biaya awal-awal kuliah Bagus, asalkan tetap memilih tinggal di Surabaya.
 
Atas permintaan kedua orang tua, Bagus nurut. Ia lebih memilih melepas kesempatan yang sudah ditangan untuk kuliah di PTIGT, Jakarta dan menanti pengumuman UMPTN. 
 
"Oke, aku sih yakin, Puji Tuhan akhirnya lolos diterima," seloroh Bagus. Dengan keyakinan yang tinggi, Bagus diterima di ITS sebagai salah satu mahasiswa jurusan Teknik Industri angkatan 1993.
 
Cari gaji sendiri
 
Setelah masuk ke dunia perkuliahan, semester kedua, Bagus memutar otak supaya melepaskan beban biaya dari orang tuanya. Mengingat ilmu bangku sekolahnya cukup mumpuni, Bagus kemudian membuka praktik les, khusus mata pelajaran eksakta untuk murid SMP dan SMA. 
 
Tiga mata pelajaran utama yang dipilih, Matematika, Fisika, dan Kimia, yang kerap dicap sulit oleh murid-murid sekolah menengah kala itu. Berbekal iklan les di salah satu koran, akhirnya strategi Bagus berbuah hasil. Ada tiga murid yang daftar dan uang dari sini juga digunakan untuk membayar kuliah.
 
Setelah memperoleh sumber keuangan pasti untuk menopang pendidikannya selama kuliah, Bagus mengejar target utamanya, cepat lulus. Di benaknya, tertanam pikiran, "Semakin cepat lulus, semakin cepat kerja".
 
Setelah empat tahun mengemban pendidikan di ITS Teknik Industri, akhirnya Bagus lulus dengan hasil yang memuaskan pada 1997. Melalui bekal pendidikan dan pengalaman segudang bagaimana hidup dalam kondisi serba kekurangan, Bagus mampu bertahan dan mengakali hidup jadi lebih baik. (rep05)