Riau Rhytm, Berpegang dan Mempertanyakan Sejarah

Selasa, 23 September 2014

Makassar - Menghadirkan pertunjukan musik yang memukau bukan berarti tanpa risiko. Musik yang ditampilkan Riau Rhytm Chambers Indonesia ini bercerita tentang kehidupan masyarakat lokal Candi Muara Takus, Kabupaten Kampar, Riau. Mereka menepis catatan sejarah selama ini bahwa Suvarnadvipa merupakan pulau emas.
 
Selama ini, pulau emas memang dianggap terletak di Sriwijaya, Palembang. Padahal, berdasarkan naskah kuno yang ditemukan oleh tim Riau Rhytm, selama melakukan riset, tak ada sedikit pun peninggalan sejarah yang menandakan Kerajaan Sriwijaya berada di Palembang. 
 
“Sudah ada berapa peneliti yang masuk ke Palembang untuk mencari bukti sejarah, tapi hasilnya nihil,” kata Aristofani Fahmi, salah seorang personel Riau Rhtym yang terlibat aktif melakukan riset, Selasa, 16 September 2014.
 
Temuan dikuatkan oleh buku ilmiah berjudul Sriwijaya yang ditulis oleh Profesor Slamet Mulyana. Data yang sama ditemukan dalam buku berjudul Memoire karya Profesor Chavannes pada 1894 yang menyimpulkan bahwa pulau emas berada di Candi Muara Takus, bukan di Sriwijaya atau Jambi. “Bahkan penemuan candi-candi peninggalan kerajaan banyak ditemukan di Muara Takus,” kata dia.
 
Sang komposer, Rino Dezapati, mengungkapkan adanya kesulitan untuk mendapatkan data-data sejarah, terutama dalam menemukan naskah. Karena itu, sebelum melakukan riset, mereka terlebih dulu membuka beberapa buku sejarah untuk dijadikan acuan. (rep01/tco)