Ini Dia, Tiga Penghancur Kurs Mata Uang Negara Berkembang

Kamis, 13 Juni 2013

New York : Kurs mata uang negara-negara berkembang khususnya di kawasan Asia kembali menjadi sorotan. Semalam, pasar uang di negara yang tengah menjadi sorotan pebisnis dari kawasan Amerika dan Eropa ini tengah dalam kondisi kacau-balau.
 
Tak peduli apakah di bursa saham Thailand, pasar obligasi Brasil atau mata uang Afrika Selatan, para investor asing beramai-ramai membuang produk investasi tersebut.
 
Kekacauan Ini merupakan topik yang rumit dan ada beberapa keanehan yang membuat satu negara berbeda dengan yang lainnya. Berikut tiga tema besar yang membuat kondisi pasar-pasar uang di negara-negara berkembang jadi anjlok seperti dilansir dari Business Insider, Rabu (12/6/2013):
 
1. Kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS)
 
Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, suku bunga rill AS (yang suku bunga nominalnya disesuaikan dengan inflasi) kembali pulih.
 
Hal yang lebih penting dari membaiknya suku bunga Amerika adalah fakta adanya ganjalan besar bagi suku bunga rill AS.
 
Uang mengalir ke tempat yang suku bunganya tinggi atau meningkat. Saat suku bunga rill di AS anjlok, maka akan menembus kekuatan likuiditas masuk ke negara-negara berkembang yang dilakukan pemburu yield. Sekarang kegiatan pasar uang di negara-negara berkembang menurun seiring dengan bangkitnya kekuatan likuiditas di AS. Hal ini menyebabkan berbagai penurunan kondisi pasar uang seperti yang sedang Anda saksikan.
 
2. Perlambatan ekonomi China
 
Banyak pasar uang di negara-negara berkembang lebih memilih ekspor ke China.
 
Perlambatan ekonomi China merupakan salah satu drama terbesar tahun ini (terbukti dengan data pelemahan ekonomi setelah akhir pekan lalu) dan hal ini terus berlanjut dengan cepat.
 
3. Perlambatan Komoditas
 
Perlambatan ekonomi China berdampak pada melambatnya pergerakan komoditas. Banyak pasar uang di negara berkembang adalah para pemain komoditas.
 
Seperti yang bisa Anda lihat, beberapa bulan ini merupakan waktu yang sulit untuk pergerakan harga-harga komoditas dan hal ini penyebab jatuhnya korban di pasar-pasar uang.(rep03)