Hukum

Sadis! Remaja India Diperkosa Bergiliran Lalu Dibakar

Kalkuta - Setahun setelah kasus pemerkosaan dan pembunuhan mahasiswi kedokteran di Ibu Kota New Delhi menuai protes rakyat India, sejumlah kasus pemerkosaan brutal masih terus terjadi. Tepat pada malam tahun baru, 31 Desember 2013, warga Kota Kalkuta dikejutkan oleh berita kematian seorang remaja putri berusia 16 tahun.
 
Kisah tragis remaja perempuan itu terjadi pada 26 Oktober lalu. Ia diperkosa oleh sekelompok pemuda dan ditinggalkan di sebuah lapangan. Seusai melapor ke kantor polisi, korban kembali pulang ke rumahnya di Kota Madhyagram, sekitar 25 kilometer dari Kalkuta. Setibanya di rumah, ia diculik paksa oleh kelompok pemuda yang sama dan memperkosanya kembali.  
 
Pada 23 Desember 2013, korban dilaporkan mengakhiri hidupnya dengan membakar diri. Namun ayah korban membantah dan menegaskan putrinya dibakar hidup-hidup oleh dua orang yang dekat dengan pelaku pemerkosaan. Setelah menjalani perawatan medis selama beberapa hari, korban akhirnya meninggal dunia di rumah sakit pada malam tahun baru.
 
"Korban memberikan keterangan dalam kondisi sekarat di depan pejabat kesehatan bahwa dia dibakar oleh dua orang yang dekat dengan pelaku pemerkosaan, ketika korban sedang sendirian di rumah," kata pejabat kepolisian setempat, Nimbala Santosh Uttamrao.
 
Berdasarkan pemeriksaan dokter yang merawat korban, sang remaja dalam kondisi hamil saat mengembuskan napas terakhir. Polisi yang berhasil menangkap dua pelaku utama pemerkosaan dan pembakaran korban akan menuntut mereka dengan pasal pembunuhan berencana.
 
Kasus ini kian menarik perhatian masyarakat  India setelah ayah korban melapor kepada Gubernur Negara Bagian Bengal Barat M.K. Narayanan. Rupanya, penderitaan remaja itu belum berakhir dengan kematiannya.
 
Mayat remaja itu pun sempat menjadi rebutan antara keluarga dan polisi. Khawatir kasus ini akan menjadi pemantik aksi protes kelompok kiri, polisi berusaha mengambil paksa jasad korban dari rumahnya.
 
“Polisi memaksa akan mendobrak pintu rumah jika tidak dibuka,” ujar sang ayah seperti dlansir Tempo.co.
 
Padahal mereka sengaja menunda kremasi putrinya untuk menunggu kerabat dari luar kota. Polisi yang berhasil mengambil paksa jasad korban kemudian membawanya ke pusat kremasi kota. Tetapi jasad korban harus menunggu selama tiga jam karena belum ada sertifikat kematian.
 
Ketua Komisi Nasional Perempuan India Mamta Sharma mengutuk insiden ini. “Jika polisi bertindak profesional, tindakan biadab ini tidak akan terjadi.” (rep03)