Bagansiapiapi Mulai Lirik Pembangunan Water Park dan Plaza

Ahad, 20 November 2016

ADVERTORIAL ROHIL

BAGANSIAPIAPI - Pemerintah Kabupaten (pemkab) Rokan Hilir (Rohil) menyambut baik dan memberikan Apresiasi atas dibangunnya water park dan plaza tiga lantai dikota Bagansiapiapi. Pembangunan Taman Hiburan dan pusat perbelanjaan oleh investor lokal asal Bagansiapiapi ini tentunya akan membawa dampak positif bagi pengembangan potensi wisata yang ada di Negeri seribu kubah.

"Insya Allah tahun ini water Park dan plaza sudah berdiri dikota Bagansiapiapi, hal ini tentunya tidak terlepas dari niat baik para investor lokal putra daerah yang ingin mengembangkan daerah kelahirannya. Nah, ini tentunya kita sambut dengan positif karena telah mau menanamkan asetnya sekaligus mempromosikan wisata daerah, "kata Bupati Rohil, H Suyatno Amp disela-sela melakukan peninjauan pembangunan Water Park dan Plaza diareal Hotel Lucky Star Bagansiapiapi.

Selain membangun water Park dan plaza, investor itu juga mengatakan dalam waktu dekat juga  akan membangun tempat hiburan karoke keluarga. Agar segala macam pembangunan yang membawa dampak positif itu cepat terealisasi, pemkab Rohil akan memberikan kemudahan-kemudahan perizinannya. "kita telah minta kepada Badan Penanaman Modal dan pelayanan perizinan terpadu (BPMP2T) maupun pihak kecamatan untuk mempermudah segala perizinannya, "kata Suyatno.

Apabila taman hiburan dan pusat perbelanjaan itu selesai tahun ini, maka sangat diyakini kota bagansiapiapi akan ramai dikunjungi oleh parawisatawan. Selain itu, masyrakat rohil kedepannya tidak lagi bersusah payah keluar daerah untuk mendapatkan tempat hiburan atau rekreasi.

Dirinya juga mengakui kalau dirohil banyak lokasi wisata yang mampu mendatangkan wisatawan dan menambah Pendapatan Asil Daerah (PAD) disektor kepariwisatawan, namun lokasi yag ada belumlah dimanfaatkan secara maksimal.

"kalau ada investor yang berkeinginan menanamkan asetnya, kita siap mempermudahkan segala perizinannya, "pungkas Suyatno sembari memberikan penawaran.

*Sekilas Tentang Bagansiapiapi

Bagansiapiapi (juga dikenal sebagai Bagan atau Baganapi) adalah ibu kota Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, Indonesia. Kota ini terletak di muara Sungai Rokan, di pesisir paling utara Rokan Hilir, dan merupakan tempat yang sangat strategis. Bagansiapiapi dapat ditempuh dari segala arah, baik darat maupun laut. Bagansiapiapi saat ini adalah ibu kota Kabupaten Rokan Hilir. Selain itu, Bagansiapiapi juga adalah ibu kota Kecamatan Bangko.

Terdapat beberapa istilah/nama untuk kota yang satu ini :  Awalnya para leluhur menyebut nama kota ini adalah : Bagan-Api, kemudian direvisi menjadi Bagan-Siapi-api dan terakhir menjadi Bagansiapiapi. Dalam keseharian kami menyebutnya kota Bagan.

Bagansiapiapi : sebuah kota eksotis yang pernah terkenal di dunia karena hasil laut yang berlimpah hingga menjadi peringkat ke-2 terbesar penghasil ikan dunia setelah Norwegia. Tidak heran bila bank sebesar Bank Rakyat Indonesia mendirikan cabang ke-2 Indonesia di kota Bagansiapiapi karena arus perdagangan yang saat itu sangat aktif. Secara kebetulan, karena kedatangan oleh para pendatang Tionghoa yang memulai kehidupan bisnis kelautan di Bagansiapiapi dan kemudian berkembang hingga mendirikan pabrik karet alam, tidaklah heran bila di kota yang kecil ini berkembang sebuah komunitas Tionghoa yang budayanya begitu kuat. Kekuatan budaya inilah yang saat ini menjadikan kota Bagansiapiapi semakin unik di Indonesia, sehingga beberapa pihak mulai menggarap sektor pariwisata Bagansiapiapi dari sisi budaya Tionghoa dan keindahan alam.

Sejak tahun 1990, transportasi darat mulai mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah setempat terlebih sejak Bagansiapiapi menjadi ibu kota kabupaten Rokan Hilir yang baru terbentuk, transportasi darat semakin baik dan aman. Kalau dulu Bagansiapiapi hanya bisa ditempuh dengan jalan laut kini orang lebih memilih jalan darat selain lebih nyaman juga lebih cepat.

Di Bagansiapiapi dikenal suatu ritual dari masyarakat Tionghoa yang sangat terkenal, yaitu ritual Bakar Tongkang atau GoCapLak, di mana ritual tersebut diadakan setiap penanggalan Imlek bulan kelima (Go) tanggal ke-16 (CapLak) setiap tahunnya. Ritual tersebut mampu menyedot puluhan ribu wisatawan baik domestik maupun manca negara. Pemda Kabupatan Rokan Hilir saat ini gencar mempromosikan potensi wisata tersebut. Penduduknya berjumlah 31.930 jiwa (2003).

Kejayaan Bagansiapiapi setidaknya telah dimulai sejak tahun 1886, ketika gelombang orang Tiongkok (sekarang Republik Rakyat Cina) mendatangi daerah ini karena jumlah ikan yang luar biasa banyak. Masa kejayaan Bagansiapiapi dicapai pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, tepatnya tahun 1930. Saat itu, pelabuhan Bagansiapiapi yang menghadap langsung ke Selat Malaka menghasilkan ikan sebanyak 300.000 ton per tahun. Namun kejayaan ini tidak bertahan hingga masa kini, setelah mulai meredupnya hasil perikanan sejak tahun 1970-an.

Bagansiapiapi memiliki komunitas Tionghoa yang besar. Menurut sebuah artikel di Detik, kota ini dikembangkan oleh mereka. Dari tahun 1894 hingga 1948, kota ini seluruhnya berpenduduk warga Tionghoa. Ketika Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, warga kota ini sempat tidak mengakuinya dan malah mengibarkan bendera Thailand, Tiongkok atau Belanda. Kemerdekaan Indonesia baru diakui setelah ada pertempuran dengan tentara dari Sumatra Utara. Selain komunitas tionghoa orang melayu juga banyak mendiami wilayah ini. dan sekarang bagansiapiapi sudah banyak di diami oleh suku batak, jawa,bugis, dan lain-lain.

Selain itu, Kota Bagansiapiapi dulunya terkenal untuk tempat pembakaran Bakar tongkang yang terbesar. Ritual bakar tongkang sendiri merupakan budaya yang dilakukan rutin tiap tahunnya oleh masyarakat etnis Tionghoa di Bagansiapi-api, Rohil. Ritual ini satu-satunya di dunia dan hanya ada disini dan menjadi ivent nasional serta menjadi wisata yang khas dari Kabupaten Rohil, Riau.

Asal mula ritual bakar tongkang, berawal dari berangkatnya beberapa keluarga dari daratan China untuk mencari tempat kehidupan yang baru. Pada saat itu beberapa keluarga ini merantau dengan mengunakan kapal kayu dan sampailah mereka disuatu tempat (Bagan) lalu mereka melihat adanya cahaya dan kemudian tanpa berfikir panjang, mereka langsung bergegas menuju asal cahaya tersebut yang ternyata adalah kumpulan kunang-kunang (binatang bercahaya saat malam hari) di atas tempat penampungan ikan (Bagan).(Adv/humas/hen)